29 April 2011

Kaca Jendela

Wajahmu menempel di kaca jendelaku, seperti ingin memberikan kejutan, dan aku benar-benar terkejut, terperangah tak berdaya, karena selain wajahmu yang jadi begitu aneh menempel di kaca jendelaku, baru kusadari itu kau. Mari, biar kudeskripsikan dirimu lagi.  Wajah bulatmu tidak semua bisa menempel di kaca jendelaku, karena terhalang hidungmu yang bisa dibilang cukup mancung. Pipi kirimu menempel di kaca jendelaku, sekilas terlihat pori-pori wajahmu disana, dan kaca jendelaku terlihat lembab di bagian dimana bibir bagian kirimu menempel dan terlihat jadi menebal. Perlahan ku amati wajahmu yang menempel di kaca jendelaku yang berukuran satu kali satu meter. Kau terus mengamatiku, dan aku hanya bisa menelan rindu. Aku mencoba tersenyum tapi air mata yang menetes. Kau tidak bereaksi, mungkin karena kau belum mengerti arti air mata itu. Disana, di kaca jendelaku, aku merindukanmu, dan disana jualah aku melepas rinduku. Perempuan itu menarikmu, hingga wajahmu tak lagi menempel di kaca jendelaku, tapi belum juga kau lepaskan pandanganmu dariku. Tangisku semakin dalam saat perlahan kau lepaskan wajahmu dari kaca jendelaku, juga pandanganmu. Hanya beberapa detik kau ijinkan aku memilikimu lewat kaca jendelaku. Setelah itu, aku hanya memiliki kaca jendelaku, dan itu semua tanpamu.