05 December 2010

Senja Terakhir

Ku pandangi kau dari kursi belakang, kau begitu tenang mengemudikan Range Rover baru-mu. Sesekali kau terlihat kesal dan menggelengkan kepala, itu ekspresi yang menandakan kau tak habis pikir dengan pengemudi-pengemudi lain yang menurut pandanganmu mengemudi dengan tidak benar. Tidak mungkin kau tidak sadar ku pandangi selekat ini, tapi karena mengemudi memerlukan konsentrasi penuh, maka kau memilih tidak mengindahkan gangguan kecil yang ku buat. Tidak juga sekalipun kau kutemukan melirik ke kaca tengah untuk sekedar membenarkan nalurimu bahwa kau sedang dikuntit olehku. 

Kali ini tekadku sudah bulat, aku mau memandangimu sampai puas. Sebelum benar-benar kulepaskan tarik ulur tali yang menjeratku selama ini. Entah apa yang membuatku memutuskan untuk melakukan ini sebelum menutup catatan hari-hariku selama tiga tahun yang diisi oleh kau yang mungkin tak pernah sekalipun menuliskan namaku didalam agendamu. 

Sekarang mataku sampai dibahumu, yang merupakan bagian favoritku. Aku terus berpikir siapa yang akan mendapat keberuntungan untuk bersandar disana. Bila dengan membeli minuman segar dingin atau sejenisnya berkesempatan memenangkan hadiah berupa bersandar dibahumu selama lima menit, aku takkan ragu untuk membeli sebanyak mungkin dan mengadu nasib tanpa harus meminumnya, karena walau aku begitu mendambamu tapi aku masih punya cukup akal sehat yang kugunakan secara sadar untuk menginginkan keberadaanku di relung hatimu. 

Bahumu terlihat nyaman dari sini, dari jarak pandang yang terbentang antara kursi kemudi yang kau tempati dan kursi seberang belakang yang ku tempati. Harus kuakui, dilihat dari sudut manapun, bahumu tak tertandingi bagiku, ingin sekali aku menyandarkan kepalaku beserta isinya disana. Tapi ijin secara tertulis atau tidak tertulis itu tak kunjung keluar, selain karena aku tak pernah menanyakannya, juga karena entah peristiwa jenis apa yang akan membuat kau merelakan bahumu untuk kusandari. 

Aku menyandarkan kepala di kaca jendela sebelah kiriku sambil tetap memandangi bagian favoritku dari seluruh anatomi tubuhmu, berharap rasanya tak beda jauh dengan bersandar dibahumu. 

“Chikaaaaaa…udah sampe nih…bangun….”, seseorang menepuk-nepuk pipiku. 

Perlahan aku membuka mata, Lena yang duduk disebelahku menghentikan aksinya menepuk-nepuk pipiku sambil memasang wajah bingung. 

“Lo tuh pingsan ya? Tidurnya pules bener… ”, sesaat aku sadar dan spontan melihat ke kursi kemudi. 

Dia disana, melihatku sambil tersenyum jenaka, seolah aku baru saja melakukan adegan lawak yang konyol. Aku membenarkan dudukku, diam, menunduk, tak ingin melangkahkan kaki keluar. Dari luar Edo yang tadi duduk didepanku mengetuk-ngetuk kaca jendela disebelahku mengisyaratkan untuk segera turun, aku bereaksi diam sambil memandang Edo, kemudian kembali tertunduk. Semua sudah keluar, hanya aku yang masih didalam mobil. 

Ini dia saat yang paling berat untuk dilakukan, akhirnya datang juga. Aku mengucapkan selamat tinggal dalam hati sambil memandangi kursi kemudi yang tadi didudukinya. Sejenak memejamkan mata kemudian menarik nafas dalam-dalam. Membuka pintu disebelahku, dan melangkah keluar.  Disini, detik ini, kutinggalkan semua rindu yang selalu kudekap untuknya. Ku sambut dia yang memiliki senyum yang sama, bahu yang sama, dia yang sama, tapi dengan arti yang berbeda. Aku tau tak mudah Ray, kau seperti senja yang kunanti setiap sore demi melepas rindu padamu, tapi akan kumaknai beda senja itu mulai saat ini, tapi aku berjanji akan tetap indah. 

“Chika…lo baik-baik aja kan?”, suara itu, Ray menghampiriku dengan tampang bingung begitu aku keluar dari dalam mobilnya. 

Sesaat kupandangi matanya, “Yup”, jawabku mantap, sembari memberikan senyum perpisahan termanis untuknya.

Lima Menit

“Jangan menghardikku seperti itu.” 

“Kau tidak punya hak untuk tidak menerima semua kemarahanku!” 

“Aku tidak suka dihakimi.”

“Dan kau pikir aku suka dibohongi?!” 

Sepuluh detik tanpa suara. 
 
“Aku memang salah, tapi coba pikirkan juga perasaanku hingga melakukan itu. “ 

“Kau mau bilang kalau yang kau lakukan ini juga karena aku? Begitu?” 

“Aku hanya minta kau memikirkan perasaanku.” 

“Tapi itu yang kutangkap dari perkataanmu.” 

Menghela nafas, “Coba luangkan lima menit saja dari seribu empat ratus empat puluh menit yang kau miliki hari ini untuk memikirkan  perasaanku.” 

Lima detik tanpa suara. 

“Aku harap lima menit itu bisa membuat semuanya menjadi lebih baik untuk lima tahun kedepan dan seterusnya.” 

Suara pintu ditutup.

03 November 2010

Bukan Teman Yang Baik

Berhati-hatilah sebelum mengeluarkan kata-kata, seperti kata pepatah 'Lidah lebih tajam daripada pedang'. Saat seorang teman berkata kepada temannya bahwa dia bukanlah teman yang baik, maka esensi dari pertemanan yang selama ini terjalin pun mau tak mau  dipertanyakan. Banyak alasan orang mengatakan sesuatu atau mengeluarkan pernyataan, dan belum tentu pernyataan yang dikeluarkan seseorang disetujui atau sama dengan pemikiran orang lain. Pertemanan yang bertahun-tahun terjalin  seperti hilang begitu saja oleh pernyataan yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan. Mungkin ada baiknya sebelum mengeluarkan sebuah pernyataan kita mengintrospeksi diri terlebih dahulu. Sebelum melabeli seseorang dengan 'Bukan Teman Yang Baik', coba tanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita menjadi 'Teman Yang Baik' untuknya? Bukankah seharusnya kita tidak boleh mengharap kebaikan datang pada diri kita bila kita sendiri tidak berlaku baik kepada orang lain?

22 October 2010

no title

Dia menunggu waktu memberinya identitas 
Kami saling berebut untuk mempersiapkan tempat disana 
Tempat dimana keberadaan tak membutuhkan lagi bernafas
Kami ingin menyambut satu sama lain dengan bahagia 
Bisa kurasakan keberadaannya yang berjanji akan membangun rumah sederhana disana 
Saat aku datang dia akan menyambut di pintu depan dengan senyuman 
Tak ada lagi yang akan bertanya mengapa dia dan aku 
Semua sedih akan terburai indah, dia berbisik
Tak perlu khawatir Cinta 
Cuma ada kita, dan itu selamanya

-12062010

15 October 2010

Ayah dan anak perempuannya

Hari Minggu kemarin pas gue di Senayan sedang menunggu teman yang sedang lari pagi, gue mendengar percakapan seorang ayah dan anak perempuannya yang kira-kira berumur lima tahun. 
Anak: Pa, jellyfish artinya apa?
Ayah: mmmm...ikan jeli kali... (sang ayah terdengar ragu menjawab)
Anak: salah Pa, itu artinya ubur-ubur. 
Sang Ayah terdiam beberapa detik.
Ayah: iya ubur-ubur kan kaya' jeli (sang ayah sedikit malu dan membela diri) 
Pas denger itu gue pengen ketawa tapi takut si Bapak tersinggung, jadi gue nahan ketawa.

Pendidikan sekarang jauh lebih maju dan gampang diakses, tapi kalimat itu sepertinya tidak berlaku untuk saudara-saudara kita yang tinggal dipedesaan dimana listrik saja masih belum mudah untuk diakses. Mungkin ada yang berkata 'Belajar tidak mengenal Batas', kalimat itu tidak salah, hanya saja harus ditempatkan secara benar. 
Salut untuk orang-orang yang bersedia mengajar didaerah pedalaman tanpa pamrih, mereka membuktikan dedikasi untuk generasi mendatang dan rela mengorbankan segala kemudahan dan kenyamanan yang telah didapat. 
Bersyukurlah kita akan segala yang telah didapat. Bila memandang keatas maka tidak akan ada habisnya, tapi sedikit saja menundukkan kepala akan mebuat kita menyadari betapa beruntungnya kita dibanding saudara-saudara kita yang hidup tanpa listrik, tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak yang merupakan pintu gerbang menuju dunia.