22 October 2010

no title

Dia menunggu waktu memberinya identitas 
Kami saling berebut untuk mempersiapkan tempat disana 
Tempat dimana keberadaan tak membutuhkan lagi bernafas
Kami ingin menyambut satu sama lain dengan bahagia 
Bisa kurasakan keberadaannya yang berjanji akan membangun rumah sederhana disana 
Saat aku datang dia akan menyambut di pintu depan dengan senyuman 
Tak ada lagi yang akan bertanya mengapa dia dan aku 
Semua sedih akan terburai indah, dia berbisik
Tak perlu khawatir Cinta 
Cuma ada kita, dan itu selamanya

-12062010

15 October 2010

Ayah dan anak perempuannya

Hari Minggu kemarin pas gue di Senayan sedang menunggu teman yang sedang lari pagi, gue mendengar percakapan seorang ayah dan anak perempuannya yang kira-kira berumur lima tahun. 
Anak: Pa, jellyfish artinya apa?
Ayah: mmmm...ikan jeli kali... (sang ayah terdengar ragu menjawab)
Anak: salah Pa, itu artinya ubur-ubur. 
Sang Ayah terdiam beberapa detik.
Ayah: iya ubur-ubur kan kaya' jeli (sang ayah sedikit malu dan membela diri) 
Pas denger itu gue pengen ketawa tapi takut si Bapak tersinggung, jadi gue nahan ketawa.

Pendidikan sekarang jauh lebih maju dan gampang diakses, tapi kalimat itu sepertinya tidak berlaku untuk saudara-saudara kita yang tinggal dipedesaan dimana listrik saja masih belum mudah untuk diakses. Mungkin ada yang berkata 'Belajar tidak mengenal Batas', kalimat itu tidak salah, hanya saja harus ditempatkan secara benar. 
Salut untuk orang-orang yang bersedia mengajar didaerah pedalaman tanpa pamrih, mereka membuktikan dedikasi untuk generasi mendatang dan rela mengorbankan segala kemudahan dan kenyamanan yang telah didapat. 
Bersyukurlah kita akan segala yang telah didapat. Bila memandang keatas maka tidak akan ada habisnya, tapi sedikit saja menundukkan kepala akan mebuat kita menyadari betapa beruntungnya kita dibanding saudara-saudara kita yang hidup tanpa listrik, tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak yang merupakan pintu gerbang menuju dunia.