Di dalam keheningan dan dinginnya malam, saat itu kau seolah berkata "Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan tetap ada disini, aku bisa menunggu. Jangan tinggalkan dia sendiri seperti itu, belum tentu dia bisa sepertiku yang bisa menunggu, jangan tinggalkan yang kau sayangi. Kembalilah...temui dia." Sekarang aku hanya ingin berkata, pesanmu telah sampai dengan baik, aku mengerti sekarang. Terima kasih. :)
Red-Mind-Me
22 April 2012
26 August 2011
Senyum Ayah
Seratus tiga puluh dua detik. Tidak perlu sungkan. Lampu lalu lintas itu memberi pesan, merah, dia menyala. Ku kendurkan ikatan dasiku yang sore ini seakan mencekik lebih keras dari biasanya. Ku naikkan rem tangan.
Kulihat samping kananku. Seorang pengendara motor, tampaknya seorang karyawan, sedang asik mendengarkan suara-suara yang keluar dari radionya. Kemudian kulihat ke depan. Sepasang bapak dan ibu yang juga berkendara motor, dengan anaknya yang sedang tertidur di tengah mereka, si bapak terlihat tidak sabar untuk menerobos lampu merah. Seakan-akan tidak ingat keselamatan sang buah hatinya yang belum memiliki dosa itu.
Lima puluh delapan detik, warna yang sama, masih. Sore ini aku mengaku kalah, pada diriku sendiri. Aku teringat ayah, lebih tepat senyumnya. Di saat-saat seperti ini pasti dia akan menyunggingkan senyumnya, saat aku tak berdaya. Saat semua yang telah ku bangun seakan tak berarti apa-apa.
“Hoi, bengong mulu!”
Suara yang terdengar mengganggu itu memecahkan perhatianku pada kebisingan di luar, walaupun ingatanku tidak sejalan dengan pandangan mataku.
“Ayam tetanggaku bengong melulu, besoknya mati.” lanjutnya.
“Ya tapi kan aku bukan ayam tetanggamu.” balasku.
Tak ada balasan seperti biasa, dia tau aku sedang kacau, dan dia mencoba menghiburku, walau gagal.
Lana, wanita yang duduk disampingku ini menyadarkanku bahwa aku tidak sendiri, setidaknya di dalam mobil ini, sekarang.
Lampu lalu lintas itu berganti warna menjadi hijau, kuturunkan rem tangan, dan melaju ditengah desakan mobil-mobil lainnya.
Lana kembali berceloteh, tapi aku tak menghiraukannya. Aku terlalu sibuk berkonsentrasi agar tak menabrak mobil lainnya di tengah kemacetan ini, sampai sekilas aku mendengarnya menyebut kata itu, konsentrasiku terbagi.
“Ayahmu pasti bangga.”
Aku menoleh padanya seakan tak percaya apa yang baru saja dia katakan. Dia tau bagaimana hubunganku dengan ayah, dan dia-lah satu-satunya orang yang meyakinkanku bahwa bagaimanapun, ayah tetap menyayangiku.
“Apa yang barusan kamu katakan?” tanyaku.
“Ah kamu selalu saja tidak memerhatikan apa yang aku bicarakan,” jawab Lana dengan wajah cemberut.
Pikiranku kembali melayang setelah mendengar perkataan Lana.
Ayah. Orang yang selalu menjadi idolaku sejak kecil. Entah dari sifatnya, sikapnya, maupun tindakannya selalu sempurna di mataku. Disamping omelannya kepadaku, tentunya. Walaupun aku tahu, itu untuk kebaikanku sendiri. Tapi saat aku beranjak dewasa dan memilih jalanku yang tak sejalan dengan pemikirannya, dia berubah.
Dia tak pernah setuju dengan pilihanku, satu-satunya alasan dia masih berbicara padaku adalah karena aku adalah putranya, satu-satunya. Dan aku benci karena dia selalu benar. Selalu, dia menyunggingkan senyum yang sama disaat-saat seperti ini, saat aku terpuruk. Menurutnya, itulah caranya menghiburku. Dan satu hal lagi, entah mengapa selalu saja senyumnya yang kuingat, senyum yang seolah-olah berkata bahwa aku tidak akan berhasil bila tidak mengikuti kata-katanya.
“Kamu kangen enggak sama ayah kamu?”
Lagi-lagi kata-kata Lana membuyarkan pikiranku.
“Ya, kamu tahulah.”
Sudah hampir tiga tahun aku tidak bertemu dengan ayah lagi. Entah apa yang akan dilakukan ayah ketika melihat aku seperti sekarang ini. Menyemangatiku, berkata bahwa dia mengerti dengan pilihanku, dan memberitahuku bahwa ayah selalu ada bersamaku. Atau tetap menyunggingkan senyumnya seperti yang sudah-sudah.
Dia pulang ke kota kelahirannya, Wonosobo, katanya dia ingin menghabiskan sisa hidupnya disana. Disana pula dia ingin dimakamkan, disebelah Ibu, pintanya padaku sebelum berangkat kesana. Selama tiga tahun tak sekalipun dia meneleponku, sekedar menanyakan kabar atau bisnisku yang tak pernah disetujuinya itu. Aku yang selalu memulai menghubunginya. Aku tau ini caranya dari dulu, tapi tak bisakah dia sekedar merasa rindu hingga ingin meneleponku atau menulis pesan singkat untukku.
Berganti hari. Berganti bulan. Berganti tahun. Tidak ada barang sekalipun dia menghubungiku pertama kali. Semakin lama, semakin aku berpikir, apa ayah masih mengingatku, apa ayah masih menganggapku anak.
(bunyi ringtone ponsel)
Lana mengambil ponselku, hendak menjawab teleponku seperti biasa bila aku sedang dibelakang kemudi.
“Biar aku saja” kali ini aku ingin menjawab sendiri telepon itu, entah mengapa, mungkin karena sebenarnya di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku berharap mendengar suara ayah.
Dan ajaib sekali, kali ini Lana membiarkanku menjawabnya, tanpa berceloteh sedikitpun seperti biasa, karena dia tak pernah setuju aktifitas menyetir dilakukan bersamaan dengan menjawab telepon. Terima kasih Lana, batinku.
Lana membantu memasang handsfree, dan menekan tombol answer di ponselku.
“Halo…”
“Den Rizal, ini bibi…” suara Bi Laksmi terdengar dari seberang sana, kali ini suaranya terdengar cemas.
“Ya Bi…ada apa?”
“Bapak Den…Bapak…” Bi Laksmi seperti tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Ayah kenapa Bi?” aku setengah berteriak, panik. Lana memberiku isyarat untuk menghentikan mobil di pinggir jalan.
Mobil dalam kecepatan nol. Aku melanjutkan teleponku dengan bibi.
“Ayah kenapa, Bi?”
“Ayah Aden kena serangan jantung, Den”
“Hah? Terus keadaan ayah gimana?”
“Ayah udah dibawa ke rumah sakit. Tapi Den...” suara Bi Laksmi terdengar lebih panik. Dan bercampur sedih.
“Tapi kenapa Bi?”
“Barusan pak dokter bilang bahwa Bapak Den Rizal udah nggak ada.”
Mendadak suasana menjadi hening. Suara kebisingan di luar seakan-akan menghilang. Lenyap entah ke mana.
Kenangan-kenangan bersama ayahku kembali berputar di dalam pikiranku, layaknya sebuah rekaman video yang diputar ulang secara tak beraturan. Dari kehangatan ayah pada saat bermain dengan aku yang masih kecil, pertengkaran kami, hingga dingin senyumnya.
Tapi kini, semua itu telah menjadi kenangan. Kenangan yang harus selalu diingat. Diingat untuk selalu membuat ayahku hidup, walaupun hanya dalam hatiku. Dan aku yakin ayah pasti tahu bahwa aku menyayanginya, begitu juga sebaliknya, tanpa harus kami ungkapkan.
Ditulis oleh: Adhil Novandri dan Mhita Novalina Darma
16 August 2011
A Moment
Cowo : mmm...mau ga...lo..jadi...mmmm.....pacar gue? (dengan canggung)
Cewe : (tersipu malu) love you too...
Cowo : emangnya tadi gue bilang i love you?
Cewe : jadi lo ga cinta ama gue? (suara meninggi)
Cowo : bukan gitu...
Cewe : trus???
Cowo : (terdiam dan bingung)
Cewe : (cemberut)
Cowo : eh...liat tuh...gedung yang itu tinggi banget ya? (berniat mencairkan suasana sambil senyam senyum)
Cewe : males!!!
Cowo : eh...jadi orang ga boleh males lho.
Cewe : biarin (tetep cemberut dan ga mengalihkan pandangan)
Cowo : (masih senyam senyum sambil mikir)
Hening beberapa detik...
Cowo : Sekarang kita jadian dong? (deg-deg-an tapi tetep stay cool)
Cewe : Tanya aja ama gedung yang lo bilang tinggi itu. (masih cemberut)
Cowo : Woww..magic..gedungnya bisa ngomong... (belaga bego)
Cewe : (tambah sebel)
Cowo : eh..eh..klo marah nanti cepet tua lho...keriput-keriput gt..emangnya mau keriput?
Cewe : emangnya siapa tadi yang bikin emosi?
Cowo : mmm..pasti gedung yang tinggi itu, biar nanti gue omelin tuh gedung.. (cengengesan)
Cewe : garing bener sih, ga lucu tau...
Cowo : gapapa deh, tapi ga marah lagi kan?
Cewe : sedikit..
Cowo : kenapa sedikit? Banyak aja..
Cewe : Kan sedikit-sedikit menjadi bukit...
Both : Hahahahahaaa.....
(The End)
Cewe : (tersipu malu) love you too...
Cowo : emangnya tadi gue bilang i love you?
Cewe : jadi lo ga cinta ama gue? (suara meninggi)
Cowo : bukan gitu...
Cewe : trus???
Cowo : (terdiam dan bingung)
Cewe : (cemberut)
Cowo : eh...liat tuh...gedung yang itu tinggi banget ya? (berniat mencairkan suasana sambil senyam senyum)
Cewe : males!!!
Cowo : eh...jadi orang ga boleh males lho.
Cewe : biarin (tetep cemberut dan ga mengalihkan pandangan)
Cowo : (masih senyam senyum sambil mikir)
Hening beberapa detik...
Cowo : Sekarang kita jadian dong? (deg-deg-an tapi tetep stay cool)
Cewe : Tanya aja ama gedung yang lo bilang tinggi itu. (masih cemberut)
Cowo : Woww..magic..gedungnya bisa ngomong... (belaga bego)
Cewe : (tambah sebel)
Cowo : eh..eh..klo marah nanti cepet tua lho...keriput-keriput gt..emangnya mau keriput?
Cewe : emangnya siapa tadi yang bikin emosi?
Cowo : mmm..pasti gedung yang tinggi itu, biar nanti gue omelin tuh gedung.. (cengengesan)
Cewe : garing bener sih, ga lucu tau...
Cowo : gapapa deh, tapi ga marah lagi kan?
Cewe : sedikit..
Cowo : kenapa sedikit? Banyak aja..
Cewe : Kan sedikit-sedikit menjadi bukit...
Both : Hahahahahaaa.....
(The End)
06 August 2011
Toss
Kau mau menyewaku?
Memangnya kau bisa disewa?
Tentu saja.
Seorang urakan sepertimu disewa? Apa yang kau andalkan?
Intelejensia.
Apakah aku terlihat seperti orang yang butuh intelejensia-mu?
Tepat sekali.
Mengapa kau begtu percaya diri?
Karena kau membutuhkanku.
(Menyeringai)
Itu pasti.
Kau gila.
Tidak sepenuhnya.
Berapa tarifmu?
Akhirnya kau percaya. (Menyeringai)
Tidak sepenuhnya. (Balas menyeringai)
Kau bahkan mengambil kata-kataku.
Tidak ada bukti bahwa kata-kata itu milikmu.
Dua juta per jam.
Memangnya kau bisa disewa?
Tentu saja.
Seorang urakan sepertimu disewa? Apa yang kau andalkan?
Intelejensia.
Apakah aku terlihat seperti orang yang butuh intelejensia-mu?
Tepat sekali.
Mengapa kau begtu percaya diri?
Karena kau membutuhkanku.
(Menyeringai)
Itu pasti.
Kau gila.
Tidak sepenuhnya.
Berapa tarifmu?
Akhirnya kau percaya. (Menyeringai)
Tidak sepenuhnya. (Balas menyeringai)
Kau bahkan mengambil kata-kataku.
Tidak ada bukti bahwa kata-kata itu milikmu.
Dua juta per jam.
Dua gelas Cabernet Sauvignon please.
Berapa lama kau ingin menyewaku?
Sampai kau benar-benar tahu bahwa aku tidak membutuhkanmu.
Sepertinya akan butuh selamanya.
29 April 2011
Kaca Jendela
Wajahmu menempel di kaca jendelaku, seperti ingin memberikan kejutan, dan aku benar-benar terkejut, terperangah tak berdaya, karena selain wajahmu yang jadi begitu aneh menempel di kaca jendelaku, baru kusadari itu kau. Mari, biar kudeskripsikan dirimu lagi. Wajah bulatmu tidak semua bisa menempel di kaca jendelaku, karena terhalang hidungmu yang bisa dibilang cukup mancung. Pipi kirimu menempel di kaca jendelaku, sekilas terlihat pori-pori wajahmu disana, dan kaca jendelaku terlihat lembab di bagian dimana bibir bagian kirimu menempel dan terlihat jadi menebal. Perlahan ku amati wajahmu yang menempel di kaca jendelaku yang berukuran satu kali satu meter. Kau terus mengamatiku, dan aku hanya bisa menelan rindu. Aku mencoba tersenyum tapi air mata yang menetes. Kau tidak bereaksi, mungkin karena kau belum mengerti arti air mata itu. Disana, di kaca jendelaku, aku merindukanmu, dan disana jualah aku melepas rinduku. Perempuan itu menarikmu, hingga wajahmu tak lagi menempel di kaca jendelaku, tapi belum juga kau lepaskan pandanganmu dariku. Tangisku semakin dalam saat perlahan kau lepaskan wajahmu dari kaca jendelaku, juga pandanganmu. Hanya beberapa detik kau ijinkan aku memilikimu lewat kaca jendelaku. Setelah itu, aku hanya memiliki kaca jendelaku, dan itu semua tanpamu.
05 December 2010
Senja Terakhir
Ku pandangi kau dari kursi belakang, kau begitu tenang mengemudikan Range Rover baru-mu. Sesekali kau terlihat kesal dan menggelengkan kepala, itu ekspresi yang menandakan kau tak habis pikir dengan pengemudi-pengemudi lain yang menurut pandanganmu mengemudi dengan tidak benar. Tidak mungkin kau tidak sadar ku pandangi selekat ini, tapi karena mengemudi memerlukan konsentrasi penuh, maka kau memilih tidak mengindahkan gangguan kecil yang ku buat. Tidak juga sekalipun kau kutemukan melirik ke kaca tengah untuk sekedar membenarkan nalurimu bahwa kau sedang dikuntit olehku.
Kali ini tekadku sudah bulat, aku mau memandangimu sampai puas. Sebelum benar-benar kulepaskan tarik ulur tali yang menjeratku selama ini. Entah apa yang membuatku memutuskan untuk melakukan ini sebelum menutup catatan hari-hariku selama tiga tahun yang diisi oleh kau yang mungkin tak pernah sekalipun menuliskan namaku didalam agendamu.
Sekarang mataku sampai dibahumu, yang merupakan bagian favoritku. Aku terus berpikir siapa yang akan mendapat keberuntungan untuk bersandar disana. Bila dengan membeli minuman segar dingin atau sejenisnya berkesempatan memenangkan hadiah berupa bersandar dibahumu selama lima menit, aku takkan ragu untuk membeli sebanyak mungkin dan mengadu nasib tanpa harus meminumnya, karena walau aku begitu mendambamu tapi aku masih punya cukup akal sehat yang kugunakan secara sadar untuk menginginkan keberadaanku di relung hatimu.
Bahumu terlihat nyaman dari sini, dari jarak pandang yang terbentang antara kursi kemudi yang kau tempati dan kursi seberang belakang yang ku tempati. Harus kuakui, dilihat dari sudut manapun, bahumu tak tertandingi bagiku, ingin sekali aku menyandarkan kepalaku beserta isinya disana. Tapi ijin secara tertulis atau tidak tertulis itu tak kunjung keluar, selain karena aku tak pernah menanyakannya, juga karena entah peristiwa jenis apa yang akan membuat kau merelakan bahumu untuk kusandari.
Aku menyandarkan kepala di kaca jendela sebelah kiriku sambil tetap memandangi bagian favoritku dari seluruh anatomi tubuhmu, berharap rasanya tak beda jauh dengan bersandar dibahumu.
“Chikaaaaaa…udah sampe nih…bangun….”, seseorang menepuk-nepuk pipiku.
Perlahan aku membuka mata, Lena yang duduk disebelahku menghentikan aksinya menepuk-nepuk pipiku sambil memasang wajah bingung.
“Lo tuh pingsan ya? Tidurnya pules bener… ”, sesaat aku sadar dan spontan melihat ke kursi kemudi.
Dia disana, melihatku sambil tersenyum jenaka, seolah aku baru saja melakukan adegan lawak yang konyol. Aku membenarkan dudukku, diam, menunduk, tak ingin melangkahkan kaki keluar. Dari luar Edo yang tadi duduk didepanku mengetuk-ngetuk kaca jendela disebelahku mengisyaratkan untuk segera turun, aku bereaksi diam sambil memandang Edo, kemudian kembali tertunduk. Semua sudah keluar, hanya aku yang masih didalam mobil.
Ini dia saat yang paling berat untuk dilakukan, akhirnya datang juga. Aku mengucapkan selamat tinggal dalam hati sambil memandangi kursi kemudi yang tadi didudukinya. Sejenak memejamkan mata kemudian menarik nafas dalam-dalam. Membuka pintu disebelahku, dan melangkah keluar. Disini, detik ini, kutinggalkan semua rindu yang selalu kudekap untuknya. Ku sambut dia yang memiliki senyum yang sama, bahu yang sama, dia yang sama, tapi dengan arti yang berbeda. Aku tau tak mudah Ray, kau seperti senja yang kunanti setiap sore demi melepas rindu padamu, tapi akan kumaknai beda senja itu mulai saat ini, tapi aku berjanji akan tetap indah.
“Chika…lo baik-baik aja kan?”, suara itu, Ray menghampiriku dengan tampang bingung begitu aku keluar dari dalam mobilnya.
Sesaat kupandangi matanya, “Yup”, jawabku mantap, sembari memberikan senyum perpisahan termanis untuknya.
Lima Menit
“Jangan menghardikku seperti itu.”
“Kau tidak punya hak untuk tidak menerima semua kemarahanku!”
“Aku tidak suka dihakimi.”
“Dan kau pikir aku suka dibohongi?!”
Sepuluh detik tanpa suara.
“Aku memang salah, tapi coba pikirkan juga perasaanku hingga melakukan itu. “
“Kau mau bilang kalau yang kau lakukan ini juga karena aku? Begitu?”
“Aku hanya minta kau memikirkan perasaanku.”
“Tapi itu yang kutangkap dari perkataanmu.”
Menghela nafas, “Coba luangkan lima menit saja dari seribu empat ratus empat puluh menit yang kau miliki hari ini untuk memikirkan perasaanku.”
Lima detik tanpa suara.
“Aku harap lima menit itu bisa membuat semuanya menjadi lebih baik untuk lima tahun kedepan dan seterusnya.”
Suara pintu ditutup.
Subscribe to:
Posts (Atom)
