Ku pandangi kau dari kursi belakang, kau begitu tenang mengemudikan Range Rover baru-mu. Sesekali kau terlihat kesal dan menggelengkan kepala, itu ekspresi yang menandakan kau tak habis pikir dengan pengemudi-pengemudi lain yang menurut pandanganmu mengemudi dengan tidak benar. Tidak mungkin kau tidak sadar ku pandangi selekat ini, tapi karena mengemudi memerlukan konsentrasi penuh, maka kau memilih tidak mengindahkan gangguan kecil yang ku buat. Tidak juga sekalipun kau kutemukan melirik ke kaca tengah untuk sekedar membenarkan nalurimu bahwa kau sedang dikuntit olehku.
Kali ini tekadku sudah bulat, aku mau memandangimu sampai puas. Sebelum benar-benar kulepaskan tarik ulur tali yang menjeratku selama ini. Entah apa yang membuatku memutuskan untuk melakukan ini sebelum menutup catatan hari-hariku selama tiga tahun yang diisi oleh kau yang mungkin tak pernah sekalipun menuliskan namaku didalam agendamu.
Sekarang mataku sampai dibahumu, yang merupakan bagian favoritku. Aku terus berpikir siapa yang akan mendapat keberuntungan untuk bersandar disana. Bila dengan membeli minuman segar dingin atau sejenisnya berkesempatan memenangkan hadiah berupa bersandar dibahumu selama lima menit, aku takkan ragu untuk membeli sebanyak mungkin dan mengadu nasib tanpa harus meminumnya, karena walau aku begitu mendambamu tapi aku masih punya cukup akal sehat yang kugunakan secara sadar untuk menginginkan keberadaanku di relung hatimu.
Bahumu terlihat nyaman dari sini, dari jarak pandang yang terbentang antara kursi kemudi yang kau tempati dan kursi seberang belakang yang ku tempati. Harus kuakui, dilihat dari sudut manapun, bahumu tak tertandingi bagiku, ingin sekali aku menyandarkan kepalaku beserta isinya disana. Tapi ijin secara tertulis atau tidak tertulis itu tak kunjung keluar, selain karena aku tak pernah menanyakannya, juga karena entah peristiwa jenis apa yang akan membuat kau merelakan bahumu untuk kusandari.
Aku menyandarkan kepala di kaca jendela sebelah kiriku sambil tetap memandangi bagian favoritku dari seluruh anatomi tubuhmu, berharap rasanya tak beda jauh dengan bersandar dibahumu.
“Chikaaaaaa…udah sampe nih…bangun….”, seseorang menepuk-nepuk pipiku.
Perlahan aku membuka mata, Lena yang duduk disebelahku menghentikan aksinya menepuk-nepuk pipiku sambil memasang wajah bingung.
“Lo tuh pingsan ya? Tidurnya pules bener… ”, sesaat aku sadar dan spontan melihat ke kursi kemudi.
Dia disana, melihatku sambil tersenyum jenaka, seolah aku baru saja melakukan adegan lawak yang konyol. Aku membenarkan dudukku, diam, menunduk, tak ingin melangkahkan kaki keluar. Dari luar Edo yang tadi duduk didepanku mengetuk-ngetuk kaca jendela disebelahku mengisyaratkan untuk segera turun, aku bereaksi diam sambil memandang Edo, kemudian kembali tertunduk. Semua sudah keluar, hanya aku yang masih didalam mobil.
Ini dia saat yang paling berat untuk dilakukan, akhirnya datang juga. Aku mengucapkan selamat tinggal dalam hati sambil memandangi kursi kemudi yang tadi didudukinya. Sejenak memejamkan mata kemudian menarik nafas dalam-dalam. Membuka pintu disebelahku, dan melangkah keluar. Disini, detik ini, kutinggalkan semua rindu yang selalu kudekap untuknya. Ku sambut dia yang memiliki senyum yang sama, bahu yang sama, dia yang sama, tapi dengan arti yang berbeda. Aku tau tak mudah Ray, kau seperti senja yang kunanti setiap sore demi melepas rindu padamu, tapi akan kumaknai beda senja itu mulai saat ini, tapi aku berjanji akan tetap indah.
“Chika…lo baik-baik aja kan?”, suara itu, Ray menghampiriku dengan tampang bingung begitu aku keluar dari dalam mobilnya.
Sesaat kupandangi matanya, “Yup”, jawabku mantap, sembari memberikan senyum perpisahan termanis untuknya.